dampak burukTv

APA yang terjadi? Kekuatan kotak elektronik bernama televisi itu ternyata
begitu luar biasa merasuk dalam kehidupan kita, Anda, saya dan anak-anak kita.
Televisi, si kotak ajaib yang keberadaanya sudah menjadi bagian dalam kehidupan
sehari-hari, seringkali menimbulkan kecemasan bagi orangtua yang anaknya masih
kecil. Cemas kalau anak jadi malas belajar karena kebanyakan nonton televisi,
cemas kalau anak meniru kata-kata dan adegan-adegan tertentu, cemas mata anak
jadi rusak [minus], dan cemas anak menjadi lebih agresif karena terpengaruh
banyaknya adegan kekerasan di televisi.

Sayangnya, sampai saat ini, media televisi masih menjadi alternatif pilihan
utama bagi penonton, karena media televisi sebagai media informasi dan hiburan
yang hingga kini masih melahirkan pengaruh yang baik dan buruk bagi
perkembangan psikologis dan peilaku pemirsanya, termasuk anak-anak.

Televisi sebagai media yang memiliki sifat audiovisual mampu menghadirkan kejadian, peristiwa, atau khayalan-khayalan semata seperti film laga dari luar
negeri [import] yang banyak sekali mengandung unsur kekerasan, percintaan yang
telah banyak menyimpang dari budaya kita, atau sinetron-sinetron remaja dalam
negeri yang cenderung mengangkat tema kekerasan, sadisme, kebencian,
permusuhan, percintaan, serta gaya hidup menengah ke atas serta mendukung hidup
konsumtif dan hedonisme.

Belum lagi tayangan mancanegara seperti telenovela atau video klip yang juga
mengandung unsur-unsur pornografi dan pornoaksi, sehingga anak-anak dibawah
umurlah yang paling cepat terpengaruh oleh tayangan televisi dengan anggapan
apa yang disiarkan televisi adalah sebuah kenyataan dan kebenaran.

Berbagai tulisan, kertas kerja, dan penelitian bahkan seminar-seminar,
lokakarya, symposium yang ditulis dan dibicarakan oleh para pakar dan para ahli
dibidangnya memperdebatkan dampak negatif yang ditimbulkan oleh media televisi.
Tudingan miring mengenai kebobrokan televisi sebenarnya sudah merebak sejak
kelahirannya pada era tahun 1950.

Konsumen media televisi tidak hanya para kalangan orang tua, dewasa, remaja,
tetapi juga dari kalangan anak-anak. Yang dikhawatirkan dari kalangan orang tua
adalah anak-anak yang belum mampu membedakan mana yang baik dan buruk serta
mana yang pantas dan tidak pantas, karena media televisi mempunyai daya tiru
yang sangat kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.

Dr Hardiono D Pusponegoro SpA(K), spesialis anak dari Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo Jakarta memaparkan, sebuah penelitian terhadap anak di bawah 3
tahun dan 3 – 5 tahun yang menonton televisi. Dalam penelitian itu, anak di
bawah 3 tahun melihat layar kaca itu rata-rata 2 jam sehari dan anak 3 – 5
tahun rata-rata 3 jam sehari.

Setelah berusia 6 – 7 tahun dilakukan penilaian. Hasilnya, setiap jam melihat
TV anak di bawah 3 tahun menunjukkan penurunan uji membaca, uji membaca
komprehensif, dan penurunan memori. Sebaliknya, anak 3 – 5 tahun memiliki
kemampuan mengenal dengan membaca naik. Artinya, anak di bawah 3 tahun lebih
banyak menyebabkan efek buruk kecuali kemampuan mengenal dengan membaca.

“…setiap jam melihat
TV anak di bawah 3 tahun menunjukkan penurunan uji membaca, uji membaca
komprehensif, dan penurunan memori.”

Menurut Hardiono, otak berfungsi merencanakan, mengorganisasi, dan mengurut
perilaku untuk kontrol diri sendiri, konsentrasi, atau atensi. Otak juga
berfungsi menentukan baik atau tidak. “Pusat di otak yang mengatur hal ini
adalah korteks prefrontal yang berkembang selama masa anak dan remaja,”
jelasnya ketika menjadi salah satu pembicara dalam peluncuran program Dancow

Parenting Center (DPC)
di Jakarta, 6 Mei 2006 lalu.

“Menonton televisi saat masa anak dan remaja berdampak
jangka panjang terhadap kegagalan akademis umur 26 tahun.”

Mengutip penelitian Hancox RJ. Association of Television Viewing During
Childhood with Poor Educational Achievement Arch Pediatr Adolesc Med 2005,
Hardiono menambahkan, “Menonton televisi saat masa anak dan remaja berdampak
jangka panjang terhadap kegagalan akademis umur 26 tahun.” Dalam penjelasan
Hardiono, hanya dari menonton televisi saja otak kehilangan kesempatan mendapat
stimulasi dari kesempatan berpartisipasi aktif dalam hubungan sosial dengan orang
lain, bermain kreatif dan memecahkan masalah. Selain itu televisi bersifat satu
arah, sehingga anak kehilangan kesempatan mengekplorasi dunia tiga dimensi
serta kehilangan peluang tahapan perkembangan yang baik. “Dalam riset yang saya
baca ini, malah dianjurkan untuk anak dibawah usia 5 tahun, disarankan tidak
usah menonton televisi sama sekali,” tegasnya.

Televisi, Buruk Untuk
Perkembangan Anak

Penelitian yang
melibatkan anak-anak dari Kanada, Australia, Amerika dan Indonesia dalam hal
menonton televisi mendapatkan hasil menarik. Percaya atau tidak, anak Indonesia
adalah penonton televisi terlama, disusul Amerika, Australia dan paling rendah
Kanada. “Bagaimana tidak, kita bangun tidur langsung nonton televisi, mau tidur
disempetin nonton televisi lagi. Jangan-jangan, tidur saja masih peluk
televisi,” canda Dr Hardiono.

“Percaya atau tidak, anak Indonesia
adalah penonton televisi terlama, disusul Amerika, Australia dan paling rendah
Kanada.”

Penelitian lain yang dilakukan Liebert dan Baron dari Inggris, menunjukkan
hasil: anak yang menonton program televisi yang menampilkan adegan kekerasan
memiliki keinginan lebih untuk berbuat kekerasan terhadap anak lain,
dibandingkan dengan anak yang menonton program netral [tidak mengandung unsur
kekerasan]. Efek jangka panjang soal kekerasan ini juga dipaparkan Prof Dr

Sarlito Wirawan Sarwono,
Psikolog dari universitas Indonesia. Menurut
psikolog yang sering meneliti soal perilaku kekerasan ini, semakin sering anak
menonton program TV dengan muatan kekerasan semakin tinggi kecenderungan
menjadi agresif saat beranjak dewasa. “Simpelnya begini, anak-anak yang
menonton program mengandung kekerasan selama 1-3 jam/hari menunjukkan perilaku
agresif 3 kali lebih banyak dibandingkan anak-anak yang menonton program
sejenis kurang dari 1 jam/hari,“ ujarnya saat menjadi pembicara dalam seminar bertajuk
Program Edukasi Orang Tua Untuk Anak Indonesia, Dancow Parenting

Center
[DPC]. Tayangan televisi yang mengandung kekerasan dapat
meningkatkan pikiran-pikiran mengenai permusuhan pada anak dan mengurangi
kecenderungan anak untuk membantu orang lain.

Pendapat serupa dengan Sarlito pernah dilontarkan oleh Professor L. Rowell
Huesmann, dari University of Michigan, yang meneliti pengaruh kekerasan pada
media televisi terhadap perubahan perilaku. “Efek yang ditimbulkan mungkin
tidak langung, tapi akan muncul ketika si anak mulai dewasa kelak.” Pendapat
ini diamini oleh Professor Jonathan Freedman dari University of Toronto Kanada,
“Ilmu pengetahuan membuktikan, tayangan kekerasan itu ikut membantu melahirkan
generasi pelaku kekerasan juga.”

Andrea Martinez di Universitas Ottawa Kanada pernah melakukan review
komprehensif tentang ilmu kesusastraan untuk Komisi Radio-Televisi dan
Telekomunikasi Kanada di 1994. Dia menyimpulkan bahwa kurangnya kesepakatan
bersama tentang efek media menimbulkan tiga area `tidak jelas` atau
ketidakleluasaan dari penelitian itu sendiri.

Pertama, kekejaman di media sangat sulit untuk di definisikan dan
diukur.  Beberapa ahli yang mengikuti `violence` atau kekejaman yang
disiarkan  dalam program televisi, seperti George Gerbner dari Universitas
Temple, mendefinisikan tindakan kejam atau `violence act` [atau ancaman] dari
melukai atau membunuh seseorang, tergantung dari metode yang digunakan secara
sendiri-sendiri atau dari konteks keadaan sekitar film tersebut. Dengan demikian,
Gerber memasukkan data `violence` pada film kartun. Tetapi yang lain, seperti
seorang profesor dari Universitas Laval, Guy Paquette dan Jacques de GUise,
secara spesifik tidak mengikutsertakan kekejaman film kartun dari penelitian
mereka karena sifatnya yang komedi dan menampilkan hal-hal yang tidak
realistik.

Kedua, para peneliti tidak setuju dengan tipe hubungan dari data
pendukung. Beberapa memperdebatkan bahwa keberadaan kekejaman di media
menyebabkan agresi pada seseorang. Yang lain mengatakan kalau hal ini
berhubungan, tetapi tidak ada hubungan penyebab [hubungan akan keduanya,
terjadinya agressi bisa disebabkan oleh faktor ketiga] dan yang lain mengatakan
bahwa data tersebut mendukung kesimpulan bahwa tidak ada hubungan sama sekali
diantara keduanya [kekejaman televisi dan agresi seseorang].

Ketiga, bahkan mereka yang setuju bahwa ada sebuah hubungan antara
kekejaman yang ada di media dan agresi, tidak setuju bagaimana yang satu
mempengaruhi yang lain [kekejaman di televisi mempengaruhi tindakan seseorang].
Beberapa orang mengatakan bahwa mekanisme terjadinya hal itu berdasarkan
psikologi, bermula dari bagaimana kita mempelajari sesuatu. Contohnya, Huesmann
mendebatkan bagaimana anak-anak mengembangkan sifat  kognitif, yang
menuntun tindakan mereka dengan meniru gaya pahlawan dalam televisi. Saat
mereka menonton tayangan yang mengandung kekejaman, anak-anak belajar untuk
memikirkan dalam hati bagaimana penggunaan kekejaman sebagai metode yang cocok
untuk menyelesaikan masalah.

Kembali pada riset soal dampak televisi, dari penelitian terhadap 260 anak-anak
Sekolah Dasar [SD] yang ada di Jakarta, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia
[YKAI] membuktikan televisi ternyata medium yang banyak ditonton dengan alasan
paling menghibur. Kenyataan ini menunjukkan bahwa televisi menjadikan media
yang benar-benar diidolakan oleh anak-anak. Anak-anak lebih bersifat pasif
dalam berinteraksi dengan televisi, bahkan seringkali mereka terhanyut dalam
dramatisasi terhadap tayangan yang ada di televisi.

Hal lain yang merupakan imbas dari “terpantek” menonton televisi pada anak-anak
adalah munculnya gejala obesitas [kegemukan]. Dr. Endang Darmoutomo, MS,

SpGK,
Spesialis Gizi Klinik dari RS Siloam Gleneagles Karawaci Banten,
mengatakan kecenderungan menonton telvisi terlalu lama akan meningkatkan angka
obesitas pada anak-anak. Satu jam nonton televisi misalnya, akan meningkatkan
obesitas sebesar 2%. “Pasalnya selama menonton, anak lebih banyak ngemil dan
tak melakukan aktivitas olah tubuh,” sambung Dr Endang, saat menjadi pembicara
dari sudut pandang gizi.

Hal yang sama berlaku bagi anak yang lebih suka bermain games atau komputer
dibanding anak yang bermain-main di luar bersama teman-teman. “Saat nonton
telvisi atau main game, terjadi ketidakseimbangan energi yang masuk dan yang
digunakan,” ujar Dr. Endang. Saat anak nonton televisi, kalori yang
dibakar hanya 36 kkal/jam, padahal apa yang dia konsumsi jauh melebihi kalori
yang digunakan. “Anak perlu aktif untuk bertumbuh,” tandas Dr.
Endang. Disarankannya, untuk memperbanyak aktivitas luar ruang untuk
anak.

Daya Tiru Yang Kuat
Untuk Anak-Anak

Mengingat sangatlah
sulit bagi orangtua untuk menjauhkan anak dari televisi, ada baiknya orangtua
melakukan pendampingan anak ketika menonton dan beri penjelasan
Sebenarnya daripada tiba-tiba mengomel ataupun memuji anak, hal pertama yang
sebaiknya dilakukan adalah memberi pengertian dan mendampingi anak ketika
menonton televisi. Jika anak bertanya jawablah pertanyaan tersebut dengan rinci
dan sesuai dengan perkembangan anak.

Banyak hal yang belum diketahui oleh seorang anak, oleh karena itu kalau tidak
ada yang memberi tahu ia akan mencari sendiri dengan mencoba-coba dan meniru
dari orang dewasa. Apakah hasil percobaan maupun peniruannya benar atau salah,
anak mungkin tidak tahu. Di sinilah tugas orangtua untuk selalu memberi
pengertian kepada anak, secara konsisten. Kebingungan anak karena standar ganda
yang diterapkan orangtua juga bisa teratasi kalau orangtua memberi penjelasan
kepada anak.

Tidak ada artinya jika kita terus menerus menyalahkan media televisi sebagai
biang kerok kerusakan moral dan kepribadian anak-anak. Karena media televisi
sebagai media informasi dan hiburan akan terus hadir dengan segala
kontroversinya di tengah-tengah kita. Mereka –televisi itu–  akan terus
mempengaruhi mental, emosi, fisik dan perkembangan jiwa anak. Nah, peran orang
tualah yang  harus peka dan kritis terhadap tayangan-tayangan yang
disajikan untuk anak-anaknya. Jangan sampai anak kita pingin jadi “Krrish” yang
bisa terbang, atau tiba-tiba memaki persis seperti di sinetron Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: